Jangan pernah kamu tersinggung dengan status seseorang di media sosial.
Selagi namamu tidak tertulis di status itu, kamu tidak perlu tersinggung. Tidak perlu pula memberikan kata sanggahan di kolom komentar. Karena itu hanya akan merusak hati dan pikiranmu sendiri.
Bukittinggi, 19 September 2026 – Hidup di atas dunia ini bukan hanya tentang dirimu saja. Masih banyak manusia lain di luar sana, dengan ceritanya masing-masing. Bisa jadi status itu bukan untukmu, tapi untuk dirinya sendiri sebagai pengingat.
Jika kamu merasa tersinggung, padahal tidak ada namamu di sana, berarti kamulah yang merasa ada pada status tersebut. Dan yang malu pada akhirnya adalah diri sendiri.
Begitulah cara Allah membukakan aib dan kesalahan seseorang tanpa disengaja. Dia sendiri yang membuka aibnya, tanpa diminta oleh siapapun.
Rasulullah bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”
Dan Allah berfirman, “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.”
Maka pilihan terbaik adalah diam. Jaga hati, jaga lisan. Jika status itu benar, jadikan ia cermin untuk muhasabah. Jika salah, jadikan sabar sebagai pahala. Cukuplah Allah yang menjadi saksi atas segala sesuatu.
Maka hati-hatilah ketika jari-jemari berada di atas keyboard. Sebab saat jari tanganmu mulai menari di atas keyboard, di situlah setan berbisik sangat halus ke telinga. Bisikannya lirih, “Ayo komen, bukankah status itu menyinggung perasaanmu? Balas dia, tunjukkan siapa kamu.”
Setan terus merayu anak cucu Adam yang sedang duduk sendirian di sudut kamar. Sepi, tiada yang menemani. Hanya ada layar yang menyala dan setan di setiap sudut yang memberikan arahan melalui jari tangan.
Setan itu ada di pikiran yang su’udzon, ada di mata yang panas melihat postingan orang, ada di seluruh tubuh yang gelisah ingin membalas. Padahal Rasulullah mengingatkan, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Buang segala prasangka di hati terhadap status tersebut. Jangan kesal dan jangan mudah merasa tersinggung. Karena kalau engkau tersinggung dan merasa status tersebut tertuju pada dirimu, bisa jadi itu memang kebetulan, atau mungkin saja perilakumu memang berada di dalam tulisan status itu.
Seseorang belum tentu membuat status tersebut dengan tujuan untuk menyinggung orang lain. Terkadang itu hanyalah tulisan biasa, curahan hati, atau nasihat untuk dirinya sendiri. Jadi kalau anda tersinggung, berarti memang anda berperilaku seperti itu. Jadikan rasa tersinggung itu sebagai alarm dari Allah untuk memperbaiki diri, bukan untuk membalas dengan amarah.
Sebab perasaan, rasa sakit maupun rasa senang setiap manusia itu berbeda-beda. Kita punya status, orang lain juga punya status. Tidak semua masalah manusia itu sama, dan tidak semua rasa sakit itu sama. Justru kita sama-sama mengalami ujian hidup, hanya dengan cara yang berbeda-beda.
Maka jangan ukur luka orang lain dengan lukamu, dan jangan samakan bahagia orang lain dengan bahagiamu. Belajarlah berlapang dada, karena di balik setiap status ada kisah yang tidak kita ketahui sepenuhnya.
Sedikit kata, hendaknya janganlah kamu tertawa pada keadaan seseorang, mana tahu suatu hari nanti kamu akan berada di posisi itu.
Yang pada akhirnya, bau yang disimpan selama ini tanpa kita sadari, dengan sendirinya telah Allah bukakan, yaitu bau busuk penyakit hati. SOS, Susah lihat Orang Senang, Senang lihat Orang Susah. Padahal itu hanyalah sebentuk rasa kesal yang disebarkan di Facebook, kesal pada diri sendiri maupun orang lain tanpa menyebutkan nama. Kenapa harus sakit hati dengan status seseorang?
Jika hatimu masih dipenuhi rasa iri, dengki, dan kesal, maka status orang lain akan selalu terasa menyindir dirimu. Tapi jika hatimu bersih, kamu akan melihat status itu sebagai pelajaran. Beningkan hati, karena hati yang bening tidak akan pernah merasa tersinggung oleh bayangannya sendiri.
Ingatlah, media sosial hanyalah panggung sandiwara dunia. Jangan biarkan satu status merusak sedekah hatimu, merusak silaturahim, dan merusak pahalamu. Tugas kita bukan menghakimi tulisan orang, tapi menjaga hati agar tetap husnudzon kepada Allah dan kepada sesama manusia.
Kalau ingin dihargai, maka hargailah terlebih dahulu dirimu sendiri. Jadilah orang yang berkelas, bukan karena kaya dan mapan, tetapi karena mampu menjaga hati, menjaga lisan, menjaga adab dan sopan santun, baik di dunia nyata maupun di media sosial seperti Facebook. Orang berkelas tidak sibuk membalas, dia sibuk memperbaiki diri.
